Sunday, May 15, 2011

Penggalan kecil dari Cina

“Munculnya Tokoh Filsafat Cina”
(Kong Fu Tse)
Kisah-kisah Kong Fu Tse, seorang tokoh revolusioner cina banyak ditulis dengan nama dan penulisan yang berbeda. Ada yang menuliskan Kung Fu Tzu, Kong Fuzi, penulis disini menggunakan nama Kong Fu tse yang sesuai dengan keyakinan penulis. Dan penulis hanya akan membahas seorang tokoh yang mempunyai pengaruh dan dampak yang nyata dalam kehidupan Cina waktu itu, ia adalah Kong Fu Tse. Nama Kong Fu Tse adalah nama dalam bahasa Tionghoa, sedangkan orang menyebutnya Konfusius. Hambatan utama dalam mempelajari riwayat hidup Konfusius adalah banyaknya tradisi lisan serta dongeng yang menyelubungi riwayat kehidupannya.
Kong Fu Tse dilahirkan pada tahun 551 BC di daerah Lu, provinsi Shantung. Lu adalah negeri kecil yang berpemerintahan baik dan teratur dengan Chu-fu sebagai pusatnya. Sejak kecil Kong Fu Tse senang bermain upacara-upacaranan, seakan-akan ia turut berkorban. Ketika ia berumur 17 tahun, ia telah menjadi pegawai penilik pekerja kebun umum dan lumbung. Pada umur 22 tahun, pekerjaan ditinggalkan dan mulai pekerjaan baru yakni mengajar. Sebelum Konfusius yang berhak menerima pelajaran hanyalah anak pendeta dan anak-anak bangsawan, maka pada masa itu siapa saja diperbolehkan. Selain mengajarkan pelajaran-pelajaran yang bersifat tradisional seperti menulis, berhitung, musik, upacara keagamaan, juga mengajarkan ilmu politik.[1]
Kong Fu Tse juga pernah memegang jabatan penting dalam pemerintahan di masanya. Dalam memegang jabatan pemerintahan, ia sangatlah arif dan bijaksana, sehingga selalu mendapatkan promosi jabatan. Konfusius pernah menjabat sebagai Menteri Pekerjaan Umum dan Komisaris Polisi untuk menjaga ketertiban dan keamanan serta Menteri Kehakiman. Sesudah mengundurkan diri dari jabatan pemerintahan, Konfusius lebih banyak berdiam di rumah untuk menerbitkan Kitab tentang puisi atau kitab sajak (The Book of Poetry), menggubah musik, dan menyusun tata krama kuno, termasuk menuliskan Kitab Sejarah Musim Semi dan Musim Rontok. Meskipun demikian, para ahli menganggap kitab-kitab tersebut sebagai asli berasal dari Konfusius.[2]
Ajarannya biasa disebut Ju Chia (Kung Chia), orang banyak, menyebut Konfusianisme. Pokok-pokok ajarannya terletak pada Li, Ren, dan I. jika manusia atau masyarakat telah memegang teguh Li, Ren, dan I, maka dunia akan damai. Apa itu Li, Ren, dan I? Li adalah adat istiadat, menurut Kon Fu Tse, ini harus dipegang teguh dahulu supaya masyarakat tenang. Sesuai dengan ajaran Li, maka orang harus mengetahui dirinya dan menempatkan diri pada tempatnya. Kong Fu Tse berpendapat bahwa manusia pada dasarnya baik, hanya karena nafsu-nafsu maka muncul perbuatan-perbuatan yang tidak baik. Oleh karena itu penting untuk mengendalikan hawa nafsu agar jangan menimbulkan perbuatan jahat. Maka jika masyarakat memegang teguh Li, dengan sendirinya kejahatan dan keburukan tidak akan terjadi. Ren yakni perikemanusiaan; dan I adalah perikeadilan. Menurut Kong Fu Tse jika masyarakat memegang teguh Ren dan I, maka  masyarakat akan hidup tentram dan sejahtera. Ini semua merupakan usaha Kong Fu Tse untuk menghentikan peperangan.[3]
Peninggalan Konfusius
Pada zaman konfusius telah diletakkan dasar kasusasteraan Cina. Dasr ini dinamakan “Lima Klasik” dan “ Empat Buku”. Yang dimaksud dengan Lima Klasik yaitu:
a.       Shu Ching (Kitab Sejarah), disusun oleh Konfusius, bahannya diambil dari upacara-upacara tertulis dari raja-raja terdahulu.
b.      Shih Ching (Kitab Syair),  memuat nyanyian-nyanyian dan sajak-sajak yang dikumpulkan oleh Konfusius.
c.       I Ching (Kitab Perubahan) yang berisi  tentang ilmu filsafat.
d.      Li Chi (Kitab Adat), yang berisi tentang adat istiadat masyarakat Cina.
e.       Ch,un Ch,in (Catatan musim semi dan musim rontok), berisi sejarah kerajaan daerah Lu. Buku ini dianggap sebagai buah tangan Konfusius.
Kelima kitab tersebut di atas dipandang suci oleh Konfusius. Sedangkan yang dimaksud dengan “Empat Buku” ialah:
a.       Lun Yu, yang berisi tentang pemikiran-pemikiran Konfusius.
b.      Meng Tze, yang membentangkan tentang masalah-masalah kebujaksanaan. Meng Tze (372-289 SM) merupakan tokoh konfusius yang lainnya dan mebuahkan satu kitab dengan judul namanya sendiri.
c.       Ta Hsueh (Ajaran Besar), yang membentangkan tentang etika/kesusilaan.
d.      Chung Yung, yang berisi tentang penuturan hal-hal yang sama dengan Ajaran Besar.
Pengajaran konfusius banyak ditentang oleh kaum bangsawan dan pendeta, sebab memberikan pelajaran kepada setiap orang. Sebelumnya pengajaran menjadi monopoli kaum Brahmana/pendeta. Ada yang mengatakan bahwa Kong Fu Tse orang kolot, karena menyiapkan para pemuda untuk kehidupan feodal; namun umum mengatakan bahwa Kong Fu Tse adalah orang revolusioner karena mau memperhatikan rakyat dan demi rakyat ia mau mengajar ke daerah-daerah. Setelah Kong Fu Tse meninggal, ajarannya dilanjutkan oleh murid-muridnya seperti Hsien Tzu dan Meng Tze.[4] Konfusius wafat pada tahun 472 SM dalam usia 73 tahun. Menurut Kitab Shiji (Catatan Sejarah) karya Sima Qian, dijelaskan bahwa 72 muridnya menguasai enam jenis seni, demikian juga terdapat lebih 3000 orang yang mengaku sebagai pengikut Konfusianisme waktu itu.[5]
Dari semua penjelasan diatas, kita menjadi tahu bahwa ajaran konfusius mengajarkan tentang kehidupan yang awalnya dimulai pada diri sendiri terlebih dahulu. Dan kemudian menerapkannya pada kehidupan yang sifatnya menyeluruh dan umum. Dalam arti lain yaitu, kita dituntut untuk mempersiapkan diri dalam menghadapi dan mengerti diri kita sendiri dan kemudian menerapkan di dunia luar. Ajaran-ajaran konfusius sampai sekarang masih dipelajari dan ditelaah karena melihat Cina merupakan suatu peradaban yang tertua di Asia.

[1] Leo Agung, Sejarah Asia Timur, (Solo: UNS Press, 2008)
[2] Ivan Taniputra, History of China, (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2008)
[3] Op cit, hlm: 14.
[4] Leo Agung,….hlm: 14.
[5] Ivan Taniputra,….hlm: 101

No comments:

Post a Comment

Post a Comment